Shcshcshcshc… Sudah kubilang mendengarkan lagu galau begini tidak memperbaiki keadaan.*
Setidaknya sesak napasku bisa berkurang.
Hmmm.. Kapan sih kamu bisa ceria saat aku datang? Sekaliiiii saja. Aku datang ingin bercanda, tertawa, melapas penat dari waktu istirahatku yang sangat singkat. Ayolah.. Come on, baby.*
Salah sendiri kamu salah tempat. Aku baru saja mau menangis, kamu malah ingin ceria. Dasar Angin! Hiks.. Hiks..
Sutradara film itu, mengatur peran artisnya sesuai kebutuhan alur cerita. Begitu juga segala ihwal artisnya harus disesuaikan dengan tokoh yang akan diperankan.
Adakalanya si artis ingin menjadi tokoh utama, atau bisa jadi pemeran tokoh utama ingin jadi pemeran pembantu. Tapi sutradara jelas lebih tahu mana yang paling dibutuhkan untuk menyukseskan peran. Itulah mengapa sutradara memeliki wewenang untuk mengatur proses produksi film seutuhnya. Continue reading “Sutradara”
Sesuai ketentuan — * Giveway tahap 1 ini akan ditutup lebih cepat dari jadwal diatas jika sudah dapat 10 13 ide terbaik. So, buruan ikutan, jangan nunggu batas berakhir. Key! — maka hari ini (23/4) saya sampaikan Deadline DIPERCEPAT. Batas terakhir pengumpulan ide sampai 30 April 2014.
—-
Seminggu terakhir ini saya hampir tidak bisa tidur nyenyak. Paling banter sejam dua jam, sisanya merem melek. *curhat
Setelah diselidiki, sepertinya kegelisahan tentang beberapa tulisan saya yang banyak menuai perdebatan belakangan ini, menjadi penyebab utama insomnia.
*Bagi Anda yang belum membaca tulisan yang saya maksud, silahkan klik disini dan disana
Fix. Galau.
Semakin dipikir semakin membuat kepala serasa meledak. Tapi semakin kepala saya hampir meledak, saya justru menemukan satu ide: Menampung IDE!
*Latar Belakang
Selama ini orang mengenal pesantren sebagai sebuah dunia di dalam dunia, atau planet di dalam planet. Ada pula yang menyebut pesantren layaknya kerajaan, dengan segala sistem keturunan dan pemimpin yang (seakan) dikultuskan. Sebagian lagi mengistilahkan sebagai “penjara suci”. Intinya, pesantren memiliki sisi kehidupan yang berbeda dari lingkungan biasa. Continue reading “Giveaway “Berbagi Ide untuk Pesantren””
Sering saya dengar dari film, novel, atau teman sebaya, bahwa hal paling indah bagi wanita adalah “menjadi ratu semalam”. Duduk di pelaminan, mengenakan gaun tercantik, dan mendengar kata ‘Sah!’, konon itu menjadi puncak impian dari setiap wanita.
Menikah. Satu kata yang akan mengubah hidup gadis menjadi istri. Mengubah hak milik orang tua menjadi milik suami. Mengubah segala kebebasan menjadi hak dan kewajiban. Serta mengubah satu hati yang satu menjadi dua hati berpadu.
Sejujurnya saya bingung harus memberi judul apa pada tulisan ini. Tapi kalau boleh saya lebih jujur, sejatinya saya sangat takut dan merasa berdosa kalau menuliskan ini.
Tapi setelah saya pikir lagi, sepertinya saya akan lebih berdosa kalau tidak jadi menuliskan ini. Bahkan mungkin, seumur hidup saya hanya akan dihantui penyesalan yang teramat dalam jika saya tidak menuliskan ini.
Ah, sebenarnya apa yang akan saya tuliskan? Mengapa saya harus memberi prolog yang panjang dan bertele-tele. Entahlah. Semua kalimat di awal tadi muncul sendiri. Seakan menjadi penegas bahwa saya memang bimbang. Tulis tidak. Tulis tidak. Tulis tidak.