Giveaway “Berbagi Ide untuk Pesantren”

[tab: Latar Belakang]
tablet3dpixcomandrotabc
Hadiah untuk Ide Terbaik

UPDATE INFO

Sesuai ketentuan — * Giveway tahap 1 ini akan ditutup lebih cepat dari jadwal diatas jika sudah dapat 10 13 ide terbaik. So, buruan ikutan, jangan nunggu batas berakhir. Key! — maka hari ini (23/4) saya sampaikan Deadline DIPERCEPAT. Batas terakhir pengumpulan ide sampai 30 April 2014.

—-

Seminggu terakhir ini saya hampir tidak bisa tidur nyenyak. Paling banter sejam dua jam, sisanya merem melek. *curhat

Setelah diselidiki, sepertinya kegelisahan tentang beberapa tulisan saya yang banyak menuai perdebatan belakangan ini, menjadi penyebab utama insomnia.

*Bagi Anda yang belum membaca tulisan yang saya maksud, silahkan klik disini dan disana

Fix. Galau.

Semakin dipikir semakin membuat kepala serasa meledak. Tapi semakin kepala saya hampir meledak, saya justru menemukan satu ide: Menampung IDE!

*Latar Belakang

Selama ini orang mengenal pesantren sebagai sebuah dunia di dalam dunia, atau planet di dalam planet. Ada pula yang menyebut pesantren layaknya kerajaan, dengan segala sistem keturunan dan pemimpin yang (seakan) dikultuskan. Sebagian lagi mengistilahkan sebagai “penjara suci”. Intinya, pesantren memiliki sisi kehidupan yang berbeda dari lingkungan biasa.

Whatever, setelah saya merasakan langsung hidup disana, segala anggapan itu ada benarnya. Kehidupan pesantren dengan semua hiruk pikuknya, semua keunikannya, semua kenangan manis-pahitnya itu, justru menjadi gumpalan unforgattable moment yang selalu menarik saya untuk mengistimewakannya.

Itulah mengapa saya selalu berusaha untuk menyempatkan waktu berkunjung kesana, berbuat apa pun yang bermanfaat untuknya, berusaha mengajak orang lain (baca: alumni pesantren) untuk ikut andil dalam kegiatan itu.

Nah, pasca-kegiatan yang melibatkan seluruh alumni pesantren saya (baik dalam maupun luar negeri) beberapa waktu lalu, ada fakta baru yang ketika saya ungkap, ternyata menuai perdebatan. Tentu saja pro-kontra dalam segala hal itu biasa. Soeharto saja sampai turun tahta lantaran didemo oleh mahasiswa, apalagi gagasan saya.

Namun hal itu justru mengilhami saya satu hal: mengajak semua orang untuk me-“Lupakan Tulisan Saya” dan “Mari Bikin Aksi Lagi untuk Pesantren!”

Sungguh, saya tidak pernah punya niatan buruk terhadap pesantren, almamater, atau siapa pun di sudut dunia ini. Jika pun ada tulisan saya yang membuat orang kurang nyaman, cukuplah dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki diri.

Karenanya, setelah berpikir semalaman, saya mengajak Anda untuk berpastisipasi dalam

Giveaway “Berbagi Ide untuk Pesantren”

Demikian penjelasan mengenai giveaway perdana saya. Jika ada hal yang belum jelas, bisa ditanyakan langsung disini.

Orang bijak bilang, bila Anda orang kaya, berbagilah dengan uang. Bila Anda orang kuat, berbagilah dengan tenaga. Tapi bila tak punya keduanya, minimal sumbangkan IDE Anda. *CMIIW

Mari berhenti berdebat dan lekas berbuat! Tuliskan IDE Semaumu!

Sekali lagi, “Lupakan Tulisan Saya” dan “Mari Bikin Aksi Lagi untuk Pesantren!”

[tab: Syarat & Ketentuan]

*Ketentuan Giveaway

– Siapa pun Anda, asal berniat ingin berbuat baik, boleh ikut giveaway ini. (untuk peserta dari luar Indonesia, usahakan ada alamat di Indonesia untuk pengiriman hadiah jika menang)
– Peserta tidak dipungut biaya dan tidak ada persyaratan apa pun.

*Prosedur Giveaway

Tahap 1:
– Peserta menjawab pertanyaan “Apa yang bisa kita lakukan untuk pesantren?” di kotak komentar postingan ini.
– Jawaban berupa ide yang bisa diaplikasikan dan bermanfaat untuk pesantren (secara umum). Beri penjelasan singkat tentang ide tersebut, dan jelaskan juga mengapa saya harus memilih ide Anda.
– Cantumkan nama dan alamat sosmed (cukup FB/Twitter) peserta di atas jawaban.

Note:
– Tahap 1 berlangsung pada 13 Maret – 13 Mei 2014. 30 April 2014 *
– Pada tahap ini akan dipilih 10 ide terbaik untuk masuk seleksi berikutnya.
– Pengumuman pemenang tahap 1 paling lambat tanggal 15 Mei 2014 *jadwal bisa berubah

Tahap 2:
– Peserta terpilih dari tahap 1 wajib memaparkan sedetail mungkin tentang ide yang ia berikan. Mulai definisi, konsep aplikasi, anggaran dana (jika ada), tujuan dan manfaat, hingga segala ihwal tentang ide tersebut.
– Semua penjelasan diposting di blog masing-masing (platform bebas)
– Ketentuan tambahan terkait tahap 2 akan diumumkan setelah tahap 1 selesai

[tab: Penilaian]

*Penilaian

– Kualitas Ide 50%
– Prediksi Realisasi Ide 50% (dilihat berdasar pemaparan ide)
– Dewan Juri: Sohibul Contest (saya) dan seorang Pengasuh Pesantren (nama dirahasiakan demi menjaga ketertiban kontes)

Note: Ide terbaik adalah ide yang bisa direalisasikan dengan baik dan memberi efek yang baik.

*Referensi:

– Bagi Anda yang belum pernah mengenal atau kurang memahami dunia pesantren, diperbolehkan mencari referensi dari sumber manapun untuk membantu menciptakan ide. Jangan lupa cantumkan sumbernya.

[tab: Gift]

*Hadiah

tablet3dpixcomandrotabc

IDE TERBAIK (1 pemenang)
PC TABLET Pixcom Andro Tab Core 2 WI FI only

Allwinner A20, Cortex A7Android 4.2 (jelly Bean)7.0 inchTFT LCD 800 x 480 pixels
What’s in the box:
– Leather Case
– Kacamata 3D
– Anti Gores
– Charger dan Kabel Data
– Manual Book

IDE TERFAVORIT (1 pemenang)
Gratis tahun pertama
1 Domain (.com/.net/.org/.info) dan hosting 2GB IIX
plus Toko Online siap pakai.

HADIAH HIBURAN (3 pemenang)
Buku “Blog Mini Penghasilan Maksimal” karya Abdul Kholik
Buku “Rezeki rumah miring” karya Bobby Herwibowo
Buku “Siapa Bilang Ibu Rumah Tangga itu Kuper, Minder, Bodoh, Miskin, & Menyedihkan?” karya Wulan Darmanto

[tab: Note dan FAQ]

* Giveway tahap 1 ini akan ditutup lebih cepat dari jadwal diatas jika sudah dapat 10 13 ide terbaik. So, buruan ikutan, jangan nunggu batas berakhir. Key!

**Jika Anda tidak ingin berpartisipasi atau tidak ingin menyumbang ide untuk pesantren, minimal mendukung saya untuk menyukseskan giveaway ini saja. Sungguh, itu sudah menjadi kado terindah untuk ulang tahun saya hari ini, (13/3). #maksa

***Saya akan bahagia sekali jika Anda mau memberi sponsorship, sekecil apa pun itu, siapa tahu berharga untuk pemenangnya. Silahkan kontak saya via email damai@wardani.info atau inbox FB Damai Wardani.

****Banner masih dalam proses ^_^

Apa itu giveaway “Berbagi Ide untuk Pesantren”?
Ialah lomba kecil-kecilan untuk mencari ide terbaik yang bisa diwujudkan di pesantren.

Siapa penyelenggara giveaway ini?

Saya sendiri. Penyelenggara juga tidak (belum) berafiliasi dengan organisasi apa pun, namun terbuka untuk menerima donasi dan sponsor agar giveaway tambah semarak, peserta pun semakin banyak. Setiap donasi dan sponsor ship akan saya cantumkan di blog saya. Bila ada pihak yang menginginkan afiliasi atau mengambil alih, so what, hubungi saya di damai@wardani.info. Saya selalu terbuka kepada siapa pun selama memberi manfaat yang lebih banyak dan lebih baik.

Siapa pesertanya?
Peserta terbuka untuk umum.

Apa saja syarat jadi peserta?
Tidak ada persyaratan apa pun untuk menjadi peserta giveaway ini.

Bagaimana cara ikut giveaway ini?
Gampang! Peserta cukup menjawab pertanyaan “Apa yang bisa kita lakukan untuk pesantren?” di kotak komentar pengumuman giveaway (klik disini). Cantumkan nama dan alamat sosmed (FB/Twitter) peserta.

Jawaban itu berupa ide yang bisa diaplikasikan dan bermanfaat untuk pesantren (secara umum). Beri penjelasan singkat tentang ide tersebut, dan jelaskan juga mengapa saya harus memilih ide Anda.

Apakah boleh memberikan ide lebih dari 1?
Boleh. Jumlah ide yang akan diikutsertakan tidak dibatasi.

Bagaimana penilaiannya?
Pemenang ditentukan berdasar kualitas ide dan perkiraan realisasinya, hal ini dilihat dari pemaparan peserta dari ide yang diikutsertakan.

Apakah ada syarat untuk ide tersebut?
Ada, yakni ide bersifat baru, belum pernah direalisasikan. Kalau pun sebelumnya pernah ada atau bahkan ada ide yang sama, pastikan konsepnya berbeda.

Apakah ada spesifikasi pesantren?
Tidak. Ide ditujukan untuk pesantren secara umum. Tapi kalau ada yang ingin memberikan ide dengan spesifikasi tertentu, tetap diperbolehkan. Misal, ide ditujukan untuk pesantren X, atau ide ditujukan untuk santri atau pengasuh pesantren.

Bentuk idenya seperti apa?
Bebas. Tidak ada batasan bentuk ide itu seperti apa, yang penting bermanfaat dan bisa direalisasikan.

Bagaimana disclaimer idenya?
Hak cipta ide tetap milik peserta. Tapi penyelenggara berhak menyalurkan, mewujudkan, atau memberikan ide tersebut pada pesantren yang membutuhka.

Bagaimana penentuan pemenangnya?
Pada tahap 1 akan diambil 13 ide terbaik, bisa bertambah jika peserta membludak. Pada tahap 2 akan diambil 5 pemenang untuk 2 ide terbaik, 1 ide terfavorit, 1 ide terunik, dan 1 ide terkece. Hadiah hiburan akan diberikan pada 5 pemenang dibawahnya, dan beberapa peserta lain sesuai ketentuan (menyusul) *jika saya dapat banyak donasi, aamiin*

Bagaimana kalau sudah jadi donatur tapi ingin ikut giveaway?
Bisa. Tidak masalah. Tentu donasi yang sudah anda berikan tidak akan mempengaruhi penilaian.

Boleh menjawab di kotak komentar FB?
Boleh, tapi sebaiknya di kotak komentar blog saja. Kalau di kotak komentar FB, saya tidak bisa memoderasi dan jawaban langsung bisa dibaca oleh semua pengunjung halaman giveaway.
Saya ingin ikutan, tapi belum punya ide. Gimana dong?
Silahkan semedi dulu atau observasi langsung atau cari referensi atau diam saja, cukup bantu share giveaway ini saja sudah bermanfaat. Sebenarnya ide itu dekat sekali dengan kita. Jangankan yang sudah bertahun-tahun tinggal di pesantren, sudah mengalami segala kekuarangan dan kelebihan pesantren.
Bahkan yang baru mendengar kata pesantren saja, saya yakin bisa tetap menemukan ide apa yang sekiranya bisa diwujudkan dan bermanfaat untuk pesantren.Asal mau berpikir, mau berusaha, dan mau ikut giveaway ini. Sekali lagi, ide itu tidak harus muluk-muluk. Yang penting bisa direalisasikan, bisa diwujudkan, dan bisa bermanfaat.
Saya punya ide tapi tidak ingin ikut giveaway ini. Gimana dong?
Silahkan jadi volunteer. Sampaikan ide ke saya langsung dan saya akan dengan senang hati menampungnya, tanpa Anda harus jadi peserta giveaway ini.
Kalau saya hanya ingin berpartisipasi, bagaimana caranya?
Berpartisipasi jelas luas maknanya. Bisa ikut menjadi peserta, menjadi donatur, menjadi sponsor, menjadi volunteer (berbagi ide secara suka rela tanpa menjadi peserta), atau sekadar membantu share info ini juga sudah termasuk partisipasi. Bahkan sekadar membaca catatan ini sampai akhir pun, sudah sangat membahagiakan saya.
Masih merasa SULIT untuk ikut berpartisipasi dalam giveaway ini? Mungkin ini saatnya Bung Rhoma bilang “Terlalu”.

FAQ ini masih mungkin untuk terus bertambah, seiring adanya pertanyaan lain. Pertanyaan yang belum tercantum, bisa langsung ditanyakan di kotak komentar.

[tab: Daftar IDE ]

*Daftar IDE yang masuk (dimoderasi/disembunyikan)

Tian Lustiana (@Tyanlicious)

Sandi Iswahyudi (@SandiIswahyudi)

Ridwan (FB: Ridwan Aja)

Tya (FB: Tya Ia)

Fiu (FB: Fiu)

Maulana (@maulanariska)

Vivi Nurfitriani (FB: Vivi Nurfitriani)

Komarudin Yahya (FB: Komarudin Yahya)

Sinna Saidah Az-Zahra (FB: Sinna Saidah Az-Zahra)

Aida Al Fath (FB: Aida Al Fath)
Irowati (FB: Irowati)
[tab: Banner]

Silakan dipasang jika berminat

  • give away ide for pesantren

Banner ukuran lain menyusul.
[tab:END]

76 thoughts on “Giveaway “Berbagi Ide untuk Pesantren”

    • damai_wardani says:

      matur suwun, dhee.. maap blom sempet diupdate hadiahnya.

      aamin, salam hangat juga dari bandung, :)

  1. Asy-syifaa Halimatu Sadiah says:

    Dear Mak, jangan ditutup secepat dulu ya, aku masih mau ikutan kok, hanya saja minggu ini ada kegiatan sekolah (baca : UTS). Tunggu semoga bisa di Minggu nanti, dan selamat tambah umur :))

  2. tian lustiana says:

    Bissmillahirohmanirrohiim
    Untuk pesantren :

    Hal yang bisa saya berikan untuk pesantren adalah dukungan moral dan materil tentunya , semampu yang saya bisa . Memberikan bacaan islami , sains dan pengetahuan umum untuk membuka wawasan para santri disana , pemahaman yang lebih dalam tentang keagamaan , dan tentunya memfasilitasi dengan materi yang semampunya ( biasanya sih saya suka ajak teman – teman untuk gabungan sumbangan ) . Dan yang paling penting adalah niat dan keikhlasan :)

    Twitter : @Tyanlicious
    Facebook : https://www.facebook.com/tyanlicious

    • damai_wardani says:

      wuaa ada yg nawarin nih, makasi banget pak, makasi makasih.
      tapi tadi saya kontak bapa dari siang nggak ada jawaban ya?

  3. Sandi Iswahyudi says:

    Nama : Sandi Iswahyudi
    Twitter : @SandiIswahyudi

    Ide saya : Temanya Makan-Makan Dunia.
    Diskripsinya : Kegiatan makan-makan dunia. Berisikan makan-makan biasa yang dipadukan dengan dunia. Bisa berupa dari membaca, dialog, maupun menulis. Jadi dalam suatu kegiatan makan-makan dipadukan dengan makan dunia (memakan ilmu pengetahuan).
    Penguatan Ide :
    1. Makan adalah sesuatu yang dibutuhkan oleh setiap orang. Kebutuhan ini, minimal harus tercukupi sehari setidaknya 3 kali sehari. Kegiatan makan ini pun, biasanya kalau di lingkungan pesantren kondisinya santai, informal dan saling berbagi satu sama lain. Sehingga pada saat makan merupakan kondisi yang tepat untuk memasukkan informasi baik itu yang negatif atau positif. Maka dari hal itu dipadukan dengan dunia (memakan ilmu pengetahuan). Bisa dari membaca, dialog ataupun menulis.
    2. Kenapa saya tekankan dengan membaca dan menulis ataupun dialog? Pertama dari informasi yang saya dapatkan Indonesia rendah dalam hal minat bacanya, tercatat peringkat 124 dari 187 negara yang diteliti dikutip di http://www.infowonogiri.com. Selain itu Mendikbut mengatakan bahwa Indonesia masih kekurangan penulis, dikutip di http://www.mizan.com. Di buktikan dengan rendahnya jumlah produksi buku per tahunnya dibanding dengan negara lain. Hal fundamental lainnya membaca dan menulis merupakan aktivitas yang harus dibiasakan oleh setiap individu generasi muda. Karena itu salah satu syarat untuk Indonesia maju.
    3. Kenapa saya memadukan makan-makan dengan menulis dan membaca? Bukannya pada umumnya hal tersebut terpisah. Maka dari itu, dari kondisi riil di lapangan. Menunjukkan bahwa dengan kemasan membaca dan menulis di ruang tertup, formal dan serius. Menggambarkan dan membangun persepsi publik bahwa dua hal tersebut menjenuhkan, bosan, tidak gaul, mengerutkan dahi dan bukan merupakan sebuah gaya hidup anak muda. Maka dengan perpaduan makan-makan, akan membongkor persepsi yang telah terbangun sekarang. Kemudian menjadikannya dan membuat persepsi bahwa dengan membaca dan menulis kita akan gaul, sukses dan maju. Selain itu pembiasaan membaca dan menulis bukan sesuatu yang menjenuhkan, bosan dan mengerutkan dahi. Melainkan sesuatu yang santai, informal, menyenangkan dan tentunya mengeyangkan.
    4. Agendanya dikemas, kreatif, informal, fun dan khas ala anak muda. Sehingga generasi muda mudah menerima dan membiasakan diri.
    5. Apalagi dalam dunia pesantren, tidak banyak yang mengajarkan para santrinya untuk membiasakan membaca dan menulis selayaknya makan 3 kali sehari. Padahal katanya, “Indonesia ingin menjadi negara maju?”

    Penutup;
    Melihat dari berbagai penjabaran di atas dan permasalahan minat baca dan menulis yang rendah di generasi muda. Maka penerapan tema / agenda berjudul “Makan-makan Dunia.” Merupakan agenda yang layak untuk di aplikasikan. Melihat bahwa di pesantren pun tidak banyak yang memfokuskan dalam hal ini. Dengan kemasan yang kreatif, informal, santai, fun dan khas ala anak muda. Membuat tujuan akhir yaitu penanaman pembiasaan membaca dan menulis menjadi hal yang mudah untuk diterima oleh anak muda.
    Terima kasih, semoga ide ini masuk menjadi salah satu pemenangnya. Karena memang hal ini hal mendasar yang dibutuhkan oleh generasi muda, dengan kemasan sesuai denganya / khas anak muda.

  4. Indah Juli says:

    Anak perempuan ku yang paling besar sekolah dan nyantri di Assalam, Sukoharjo. Umurnya 13 tahun, jauh dari orangtua, jadi mandiri:) salah satu manfaat dari pesantren.
    Nanti kucoba ikutan GA ini :)

  5. Lusi says:

    Wah, pengetahuan saya tentang dunia pesantren boleh dibilang nyaris tidak ada. Jadi maaf, tidak bisa ikut, takut tidak memberi kontribusi perbaikan apa2. Tapi ada sesuatu yang menggelitik saya sejak lama, yang saya tangkap dari pemikiran diatas, bahwa memang primordialisme itu benar adanya. Pengkultusan kyai bahkan membuat anak keturunannya seolah sama besarnya, padahal contoh kecil saja, beberapa anak2 kyai tidak berjilbab & bergaya hidup hedonis.

    • damai_wardani says:

      Oke, nggak papa nggak ikutan, mak.. :)
      mungkin memang ada yang begitu, tapi yang tidak begitu juga saya yakin masih banyak, mak :) hehe

      matur suwun sudah mampir, mak Lusi :)

  6. Fiu says:

    FIU
    fB : Fiu

    Assalamu’alaikum wr.wb

    konsep acara khotmu al qur’an yg setiap tahun diadakan, dengan perserta siapapun boleh ikut. (bahasa yang Abah sampaikan dari dulu memang adanya acara khotmu al-qur’an adalah tasyakuran. Bagaimana jika peserta khotmu al-qur’an adalah bener-bener yang sudah hatam juza’amma/juz 30 (santri baru) dan hatam 30 juz (santri kelas 2-3) dst. suatu kebanggaan tersendiri jika kita peserta dan sudah menyelesaikan juz’amma dan lanjut sampai 30 juz.

    dg konsep tersebut mungkin santri jadi lebih semangat, karena ada dorongan/motivasi tersendiri. jika ditanya semua santri alhikmah tidak sedikit yang selama di alhikmah nggak hatam di alqur’an.

  7. Euisry Noor says:

    Menarik & bagus temanya, Mbak. Saya juga alumni pesantren (dan sesama alumni Al-Hikmah 2) generasi jadul. Jujur saja, malu juga belum berkontribusi apa-apa. Berbagi ide ingin ikutan juga. Semoga. Lihat ketentuan tahap 2-nya, wah… Kelemahanku di sini, kalau harus merinci definisi, biaya segala macam… *mikir, belum kebayang sampai taraf itu. Biasanya yang proposal seperti itu gak pernah mikirin sendiri, suka bareng2 dlm organisasi/komunitas gitu.

    • damai_wardani says:

      oo.. mbak Euis ini alumni juga to? heuheu..
      ya atuh ikutan mbak, gak nyumbang ide ya nyumbang yang lain juga boleh (ngrayu buat jd donatur) :)

  8. Rohyati Sofjan says:

    Belum pernah jadi santri, Mak. Tapi pernah juga berkunjung ke pesantren. Ehm, kepala lagi berat setelah kemarin begadang. Mau coba cari ide lagi ya. Moga bisa ikutan GA-nya. :)

  9. Pingback: Giveaway 2 “Pernah Dengar kata ‘Pesantren’?” – Ruang Sederhana

  10. molen says:

    Aku ikutan ya mbak…
    Apa yang bisa kita lakukan untuk pesantren?

    @maulanariska / fb: molenpisang

    Saya bukan santri dan tidak mengetahui kehidupan di dalam pesantren secara detil. Sebagai orang luar yang saya thau pesantren sangat mengandalkan iuran santri dan donatur dari luar. Untuk itu ide saya membuat pesantren itu mandiri, dengan mempunyai pemasukan/pendapatan sendiri. Salah satunya yaitu dengan bercocok tanam. Para santri diajar untuk bercocok tanam, mengelola sampah, sehingga hasil dari bercocok tanam dan mengelola sampah dapat dijadikan pendapatan pesantren itu sendiri. Selain itu cara ini dapat dijadikan sebagai salah satu pelajaran bagi para santri. Sehingga nantinya santri ketika selesai pendidikannya mempunyai jiwa kewirausahaan. Ide ini saya namakan “Pesantren Mandiri” detil ide ini akan saya sampaikan kemudian. terimakasih

  11. Pingback: Trilogi Giveaway Damae – Ruang Sederhana

  12. shizunda ijund says:

    Bismillah… Maee, sebenarnya pengen ikutan give away ini dari minggu2 yang lalu ya… Baru sempat sekarang blogwalking lagi dan benar2 menyimak setiap posting.. Masih bisakah ikutan, Mae? :-)

  13. Pingback: What’s Up Pesantren? “Sebuah Fragmen Masa Lalu” | Jundiurna

    • damai_wardani says:

      Wuaa.. teh Jundi makasih banget udah berpartisipasi, tapi punten teh, kayaknya teteh perlu baca lagi prosedur tiap GA-nya nih.. coz GA 1, 2, 3 itu terpisah teh. jadi nggak bisa digabung seperti postingan teteh. :)

      mohon dicek lagi ya, teh. nuhuuun..

  14. Vivi Nurfitriyani says:

    Vivi Nurfitriyani, Sumber-Cirebon. Fb= Vivi Nurfitriyani
    Menurut saya dimana saya sendiri yang menjadi salah satu orang yang mendiami sebuah pesantren. Saya teringat dengan hadits Nabi yang bunyi artinya “kebersihan itu sebagian dari iman”. Disini pengasuh pondok saya, Abah Sholah pernah dawuh kalau orang islam yang memiliki semboyan itu tapi orang baratlah yang melaksanakannya. Hampir semua muslim hafal hadits tersebut dan dipajang besar-besar disetiap pesantren. Sayangnya di Indonesia itu hanyalah sebuah pajangan. Tapi di barat tidak ada tulisan seperti itu, mereka langsung action. Miris rasanya mendengar dawuh abah ini. saya berinisiatif untuk mengolah limbah pesantren yang telah menggunung. Contohnya setiap hari seorang santri menghabiskan kurang lebih Rp 5000 untuk jajan. Jika santri tersebut dengan uang Rp 5000 bisa mendapatkan kira-kira lima jajanan, berarti seorang santri telah menghasilkan 5 sampah setiap hari, dan di Al Hikmah ada sekitar 3000 santri, jadi sehari Al Hikmah bisa menghasilkan satu truk sampah yang hanya berisi sampah plastik makanan ringan. Disini kita bisa mengolahnya menjadi berbagai macam kerajinan. Jika di rumah penduduk ada bisnis rumahan yang memproduksi berbagai kerajinan, kenapa sebuah pondok pesantren tidak bisa membuat sebuah bisnis pesantren? disini SDM nya sudah tersedia. Bahkan SDM nya adalah jiwa muda yang memiliki semangat juang yang masih fress.
    Satu lagi. Jika di sebuah pesantren memilki santri yang banyak seperti Al Hikmah2. mengingat limbah feses yang kita keluarkan setiap hari bisa kita manfaatkan sebagai bahan bakar yang dibuat gas, serta sangat potensial jika dijadikan pupuk tanaman. Al Hikmah memilki 3000 santri. Bila seorang santri menghasil 3ons feses perhari dan dikali 3000. Akan menghasilkan beberapa kwintal feses. Itu merupakan sumber daya alam yang terbengkalai. Kita bisa memanfaatkannya dengan mengolah menjadi gas dan pupuk. Bila di perkirakan, dengan feses segitu banyaknya, masyarakat sekitar pesantren tidak perlu menggunakan tabung gas Elpiji karena bisa memakai gas alami.
    Dengan adanya kegiatan ini, pesantren secara tidak langsung telah Go Green dan mendapatkan pemasukan yang lumayan untuk menunjang mutu pendidikan yang lebih berkualitas.
    Dewan juri yang terhormat wajib memilih ide saya karena saya pikir sebuah pesantren perlu menghilangkan embel-embelnya yang terkenal pesantren itu jorok,kotor,dsb. Karena jika pesantren itu sudah bersih dan yaman, menuntut ilmu pun akan terasa tenang dan dapat mendongkrak semangat baru. Trimakasih. ^_^

  15. Sinna Saidah Az-Zahra.. says:

    Anda dan saya tak akan bisa protes, kenapa dalam sehari hanya ada 24 jam? Sementara aktifitas kita begitu padat! Yah, bagi saya waktu memang hal yang menarik untuk dijadikan sebagai topic pembicaraan.

    Sebagai gadis yang berdomisili di pesantren, saat ini saya sering kali diajari untuk dispilin dalam segala hal. Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan kepada kita bahwa “Waktu adalah pedang.” Maksudnya tidak lain adalah, jika kita tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik, maka waktu itu sendirilah yang akan membunuh (menebas) kita.

    Sering sekali saya merasakan bahwa, sehari dengan durasi 24 jam adalah waktu yang sangat pendek. Banyak hal yang harus saya kerjakan, banyak dateline yang harus diselesaikan. Tak jarang mulai dari subuh sampai tengah malam, saya masih berkutat dengan segala urusan yang sepertinya tidak pernah ada selesainya.

    ‘Menyeimbangkan urusan kampus dan pesantren’ memang menjadi tantangan sendiri bagi seorang santri. Di satu sisi kami harus mengikuti jadwal ngaji (belajar), dan mentaati peraturan pondok. Tapi di sudut yang lain, sebagai mahasiswa kami juga harus komitmen dengan dunia kampus dan segala kegitan organisasi yang sudah disepakati.

    Tidak jarang saya sendiri selama satu minggu tidak memiliki waktu libur untuk mendinginkan otak yang sudah memanas. Badan pun rasanya capek seperti dipukuli masa. Saran saya. jika kegiataan Anda padat ‘cobalah membuat schedule/daily activity bersekala harian dan mingguan’. Menjelang tidur, biasanya saya akan mencatat aktifitas apa saja yang akan dilakukan untuk hari esok. Sementara satu minggu sekali, saya juga membiasakan diri untuk mencatat agenda apa saja yang harus saya kerjakan selama satu minggu ke depan.

    Meski sudah diatur dengan sedemikian rinci, tapi kadang masih ada juga jadwal yang berbenturan. Artinya ada dua kegiatan yang harus dihadiri dalam satu waktu yang bersamaan. Jika ada kasus seperti yang itu, maka cobalah memakai ‘asas prioritas’. Kegiatan mana yang lebih penting, maka itu yang kita hadiri.

    Selain itu, cobalah belajar untuk ‘TEPAT WAKTU’ dan ‘KOMITMEN’ dengan daily activity yang sudah kita susun. Karena jika kita tidak komitmen dengan schedule yang sudah dibuat, hasilnya nanti juga akan sia-sia. Sementara setiap detik dari waktu kita sangat berharga.

    Itu adalah sekelumit cara yang mungkin bisa teman-teman tiru. Semua kalangan boleh mencobanya, tidak harus santri, pelajar atau mahasiswa. Tapi siapapun Anda yang sering merasa kurang dengan durasi 24 jam, bisa mempraktekkan caranya. (Ide bisa dibaca juga di sini http://aidareal.blogspot.com/2014/03/belajarlah-tepat-waktu.html)

    • Sinna Saidah Az-Zahra.. says:

      Pertama mendengar kata ‘pesantren’ saya anggap itu adalah tempat yang katrok, tapi lama-lama saya mendapatkan hikmah yang besar di dalam-nya.. Seperti pada penjelasan di bawah ini . . . .

      Sebelumya, aku tak pernah mau berbagi
      Tidak untuk kesenangan, dan tidak untuk penderitaan
      Aku menyimpan semua rasa pada kotak kecil bersama hati seorang diri
      Hingga nanar semakin hari bertambah besar
      Mengambil alih niat suci yang sudah tergadai oleh tahta

      PESANTREN meski bukan kata yang asing lagi ditelinga, tapi sebelumnya saya tak pernah memikirkan akan tinggal di tempat seperti itu. Terhitung sejak 29 September 2013, saya membuat revolusi besar dalam hidup. Ayah memaksa saya untuk masuk pada dunia yang sebenarnya sama sekali tak ingin saya jamah. Yah, ‘Dunia Pesantren’ yang sering disebut kolot dan kaku. Ayah sendiri yang mengantarkan aku ke tempat yang sering saya sebut sebagai ‘penjara suci’ itu. ‘Waktu itu saya rasa kebahagiaan sudah benar-benar lenyap’.

      Kenyataan sulit ini harus saya telan mentah-mentah jika tak ingin diakui sebagai anak durhaka. Dengan berat saya mengayunkan langkah menju pesantren yang bernama ‘MUBAROK’ itu. Letaknya tidak cukup jauh dari kampus tempat saya belajar. Jadi tak perlu mengeluarkan tenaga ekstra saat berangkat kuliah.

      Sayangnya saya bukanlah gadis supel yang pandai bersosialisai. Ego yang sudah mengakar pada diri ini sejak kecil terlampau tinggi. Tak jarang satu bulan pertama tinggal di tempat baru, sering uring-uringan tidak jelas. Saya pun lebih banyak diam dengan buku dari pada harus bersandar gurau dengan teman satu kamar.

      Seiring dengan perjalanan waktu setelah hampir lima bulan menimba ilmu dari berbagai kitab yang sulit saya baca karena tak memahami bahasa arab dan jawa halus dengan baik, barulah saya menemukan hikmah yang besar di pesantren ini.

      Kesadaran itu sebenarnya muncul positive thinking karena saya sudah merasa lelah dengan hati yang terus saja berpikir negative. Mungkin benar sekali apa yang dikatakan dosen psikologi saya, bahwasanya energy yang kita keluarkan untuk berprasangka buruk itu lebih besar dari pada berprasangka baik.’

      Saat itu juga, saya merubah konsep hidup saya dari negative thinking menjadi. Banyak buku tentang motivasi dan video dari motivator perlahan saya pelajari. Dan, hasilnya sungguh luar biasa. Saya merasa lebih bahagia dan tidak jarang kesabaran dan emosi meski sering naik turun juga masih bisa terkendali.

      Saya mempercayai bahwa Allah begitu menyanyangi saya telah menunjukan tempat ini. Meski saya kadang merasa tidak nyaman bergabung dengan teman-teman karena belum bisa akrab, tapi pemahaman akan konsep agama yang lebih jelas sudah cukup membuat hidup saya jauh leiblih tenang.

      • damai_wardani says:

        mbak Sinna, ini bukan ide yg diikutsertakan kan ya? karena sebelumnya sudah ada 1 ide yang dikandangkan (disimpan) atas nama mbak Sinna. mohon konfirmasinya, :)

  16. Aida Al Fath says:

    FB: Aida Al Fath
    Twitter: @AidhaZhuki

    Apa Yang Harus Kita Lakukan Untuk Pesantren?

    Sangat Banyak. Ya, sangat banyak yang harus kita lakukan demi kemajuan dan perkembangan bagi yang bernama Pondok Pesantren. Kesan kuno dan Ndeso banget kerap kali dilontarkan oleh masyarakat kita kepada siapa saja yang menjadi penghuni Pondok Pesantren. Pokoknya segala yang berbau cita rasa Pesantren, jangan harap mau dicicipin atau diminati oleh anak-anak jaman dulu apalagi anak-anak modern seperti sekarang ini. Tapi perlu digaris bawahi, tidak semua anak-anak termasuk dalam kategori tersebut, ya. Alhamdulillah, masih banyak juga orang tua yang dibikin pusing oleh tingkah anak-anak mereka yang ngotot mau masuk Pesantren, salah satunya….. saya! Hehehe. Ya, itulah saya. Seorang gadis remaja tepatnya tahun 2000 yang lalu, adalah anak yang paling ngotot untuk segera diantar ke luar kota menuju Pesantren idaman. Tak peduli apa omongan teman-teman di kota, karena satu hal yang riang gembira menari-nari di kepalaku saat itu adalah pengen ngerasain nyantri dan mondok bareng anak-anak dari daerah. Berkumpul bersama, saling berbagi manfaat, dan sangat penasaran dengan Kitab Gundul yang populer itu. hihihi. Saya benar-benar jatuh cinta sama si Pondok Pesantren cap Seribu Hafalan!!!. hmm, hatiku tentu saja berbunga-bunga sudah membayangkan hal-hal yang indah jika menginjakkan kaki pertama di tanah Pesantren. Sambil membayangkan diriku duduk bersila didepan sang Kiayai sambil membaca Kitab Gundul.

    Tahu apa yang terjadi? Seketika masa-masa indah yang kuimpikan segera bubar dari pikiranku, terbang bebas menjauh dariku. Pondok Pesantren yang tidak lagi menampakkan ciri khas aslinya sebagai lembaga pendidikan yang paling ngetop seperti masa-masa jayanya ditahun 80-an hingga 90-an. Ah, ternyata saya lupa, kini semuanya mengalami perubahan fisik luar dalam. Semuanya berangsur-angsur mempercantik diri dengan kecanggihan alat tekhnologi dan informasi. Peraturan kian diperbanyak dan semakin mengundang pelanggaran secara terang-terangan. Ah, saya sempat drop menyaksikannya. Pondok Pesantren yang malang…

    Hei…tunggu dulu, Kawan! Tak semudah itu saya langsung sedih dan drop. Saya kan santri yang punya semangat tinggi, suka tantangan, dan selalu berusaha memberikan yang terbaik. Untuk Pondok Pesantren yang bernasib seperti ini, saya harus bertindak cepat, supaya identitas dan keberadaannya tidak terhapus oleh kemewahan bangunan disekitarnya. Sekarang saya harus berkontribusi ala kadarnya berupa ide atau inovasi terbaik. Supaya image sebuah Pesantren tidak kehilangan jati dirnya lagi. Yuk, meluncurrrr……. hati-hati luncurannya yaaaa…. :D

    Sama sekali tidak apa jika Pesantren mengikuti alur perkembangan zaman yang ada. Apa salahnya juga jika menggunakan fasilitas alat canggih tekhnologi yang dirasa sejalan dengan visi-misi Pesantren? Bener gak? Bener banget, gak ada yang salah dalam hal ini, selagi semuanya tidak melanggar dalam peruntukannya. Misalnya penyediaan Komputer lengkap dengan jaringan internetnya. Wah, keren banget! Para santri tidak lagi ketinggalan jaman. Dari fasilitas tersebut, pembelaran semakin lancar dengan baik. Keterampilan atau skill diluar dugaan pun akan semakin terlihat pada setiap santri tatkala memanfaatkannya pada jalur yang telah ditetapkan ajaran Islam.

    Saya rasa, kini saatnya masyarakat harus dirubah cara pandangnya terhadap dunia Pesantren. Identitas yang semakin modern, namun tetap menjaga jati diri aslinya. Bukankah Islam menganjurkan pada setiap Muslim dan Muslimah untuk menyelaraskan antara ilmu agamanya dan ilmu dunianya? Agar kelak menjadi pribadi unggul, cerdas, beraqidah dan berakhlak mulia setiap waktu…? Ya, saya sangat setuju. Tengoklah diluar sana, Pesantren-pesantren sudah mulai mengalami perombakan karena dirinya semakin diincar banyak anak-anak remaja dari berbagai kalangan. Tak penting lagi memikirkan mana yang negeri ataupun swasta. Kuantitas dan kualitaslah yang kini menjadi tolok ukur calon santri mengapa pilihannya jatuh tepat pada sasaran. Pondok Pesantren. Selain dilengkapi dengan fasilitas canggih, penguasaan bahasa Asing pun menjadi kewajiban, khususnya Bahasa Arab dan Inggris yang dipraktekkan langsung dalam area Pesantren. Tak perlu dinanya, saya yakin semuanya pada paham atas dasar penggemblengan tersebut. Banyaaaaak sekaliii yang harus kita lakukan untuk Pesantren ini, Kawan! Maka dari itu, yuk, mari semua berbondong-bondong memberikan bekal ruhani untuk generasi kita agar bangsa dan agama ini semakin terjaga dan dilindungi oleh Allag swt. Aaaamiin :D. Salam PERUBAHAN untuk Pondok Pesantren.

  17. Aida Al Fath says:

    Salam mak, mau nanya nih, jawabanku “Ide Untuk Pesantren/ Apa yang harus saya lakukan untuk Pesantren?” kemana ya? kok gak nongol lagi di sini… khawatir jawabanku gak terkirim :D
    Makasi

  18. irowati says:

    Boleh Ikutan lagi kan mbak?…sekalian nyumbang ide agar pesantren lbh kedepannya…
    Bismillah.. Sptnya yg hrs secptnya diperbaiki dlm pesantren adalah mslh kebersihan, Islam mengajarkan u mencintai keindahan dan kebersihan, bahkan kebersihan bagian dr pd iman, jd mbok yao Pesantren2 itu lebih memperhatikan hal itu, krn banyak pesantren yg tidak menyediakan tempat tdr yg layak ( kdg kasur bw sdri, jd ada yg tdr ada yg tdr ditikar), kamar mandi yg cukup ( jd mandi hrs antri lama akhirnya gak mandi ), air yg cukup ( krn air sring mati, baju jrg dicuci herrr.. ), tempat makan yg jorok …walaupun sy tdk prnh melihat lgsg tp mendgr cerita tmn2 yg hunting Pesantren yg baik u ank2 mrk, mrk menemukan banyak dr Pesantren spt itu…walaupun memang di Pesantren tmpt belajar kehidupan, tp alangkah baiknya bl mslh ini tdk diabaikan…bukankah u mencetak generasi yg baik jg memerlukan kesehatan yg baik pula.? bgm bs dikatakan generasi sehat, bl didpti anak sepulang dr Pesantren tampak kucel, kumuh, jrg mandi, kutuan bahkan kudisan. Duhhhhh…ngenes liatnya. Alhamdulillah di Pesantren anak sy tdr di ranjang susun, 1 kamar u 16 anak dg ranjang susun 8, kamar mandi didlm 3, ada tmpt nyuci dan wudhu dihalaman kamar, kran air lgsg minum dan air u wudhu/cuci, ada loundry yg murah sekilo cm seribu sdh plus setrika, ank sy hanya merasa klo bajunya sdh agk krg rapi sj ke loundry…hemat ktnya…jd baju tetap terlihat rapi, harum dan cantik…walaupun msh ada kkrngan dibidang lain, sy kira Point terpenting ttg kebersihan ini aman di pesantren anak sy…u Pesantren lain yg blm ? hayuk dong cetak Generasi Muslimin dan Muslimah yg bersih, sehat, menawan dan harum ( walaupun bkn wangi parfum, tp kr sring mandi…hihi)….bkn generasi yg kucel, kudisan,kutuan dan bau apek…ampunn…
    Nama : Irowati
    FB : Irowati
    Barrakallahufikum

  19. Rohyati Sofjan says:

    Nah, berarti idenya ditulis di sini. Sudah siap nuanginnya, maaf lama, Mak. Tapi apa masih berlaku?
    Saya termasuk insan yang merasa kehidupan pesantren itu seram, yah sebagai seseorang yang dibesarkan dalam lingkungan sekuler ada kesan asing terhadap pesantren. Namun ada kontradiksi sebagai seorang yang pernah belajar di sekolah berbasiskan agama (Islam), pesantren itu baik tapi bagaimana konsep dan aplikasi yang diterapkannya?
    Ada pesantren yang ketat dan disiplin, ada juga yang longgar dan kredibilitasnya dipertanyakan. Yang saya takutkan adalah adanya semacam kekerasan terselubung dalam kehidupan pesantren. Bullying (digencet) oleh senior atau pembimbing. Saya pernah berkunjung ke pesantren di kecamatan lain untuk suatu urusan, sempat kaget dengan cara pengawas pesantren memperlakukan seorang santri yang sedang bertugas dan ikut menemani untuk memberi penjelasan. Kasar banget karena main sikut dadanya. Dan saya tak ingin memasukkan anak ke dalam pesantren mana pun jika kredibilitas pengelolanya meragukan. Tak ingin anak alami kekerasan fisik sampai psikis. Penerapan disiplin baik asal caranya tak dibarengi dengan intimidasi atau digencet.
    Andai saja pesantren tradisional pun menerapkan ilmu keterampilan yang bisa diaplikasikan sehari-hari demi pengembangan diri. Tapi di daerah sini jarang ada. Ilmu agama mutlak mulu. Teman anak dari teman saya alami tekanan karena tidak mampu membagi waktu antara sekolah dan pesantren kala ia harus mondok. Akhirnya keluar. Tidak leluasa ikut kegiatan di sekolah dan perlakuan jam ngandang. Ia terpaksa masuk pesantren demi memenuhi harapan orangtuanya, padahal sudah kelas 3 SMK dan ingin fokus pada ujian kelak. Sulit baginya untuk memilih pesantren karena punya cita-cita pada pekerjaan bukan sebagai santri yang hanya ahli agama doang.
    Dan anak teman saya yang sepesantren dengan teman anaknya malah terpaksa keluar akibat terkena penyakit infeksi kulit. Di sana ada ketidakseimbangan antara sanitasi dan disiplin diri. Santri mestinya bisa hidup bersih, tapi malah gunain air dari kolam yang bukan dari mata air jernih. Barangkali ada ketidakseimbangan kapasitas tempat MCK dalam pesantren besar sehingga malah gunain air dari kolam pancuran lain yang tak jelas kebersihannya. Seolah-olah sakit buduk dalam budaya santri itu wajar.
    Keponakan saya pun demikian, tiga tahun hidup di pesantren sembari sekolah hasilnya malah gatal-gatal di sekujur badan. Anehnya dianggap wajar oleh keluarga besar dari pihak ibunya.
    Saya ingin fokus pada tiga hal demikian:
    1. Tak adanya dominasi senioritas atau ustaz pembimbing yang galak;
    2. Keleluasaan santri yang sekolah agar bisa tetap mempertahankan prestasinya dengan cara adaptasi wajar dan tanpa tekanan, kalau bisa ada semacam bimbingan konseling untuk memediasi santri dengan pihak orangtua, sekolah, dan pesantren;
    3. Kebersihan mestinya diterapkan sebagai bagian dari iman dengan cara penyediaan tempat MCK yang memadai dan disiplin untuk menjaga sanitasi diri berikut lingkungan pesantren.
    Demikianlah ide-ide saya, semoga berkenan.
    Terima kasih banyak, maaf jika ada kata yang tak menyamankan.

    • damai_wardani says:

      oke, mak, idenya sudah dimoderasi dan sudah didata sebagai peserta. terima kasih atas partisipasinya, :)

      • Rohyati Sofjan says:

        Maaf baru sekarang karena harus mengamati dulu, jadi ambil dari lingkungan terdekat. Dan baru-baru ini dapat kasusnya. Padahal kepikiran terus, takut telat ikut GA, alhamdulillah masih ada waktu dan ada bahan. :)

  20. Aida Al Fath says:

    FB: Aida Al Fath
    Twitter: @AidhaZhuki

    “Apa yang Bisa Kita Lakukan Untuk Pesantren?”

    Dalam kehidupan ini kita semua tak bisa lepas dari segala bentuk permasalahan, entah itu ringan maupun yang dirasa sangat berat. Bukankah Allah sudah menjelaskannya kepada kita semua bahwa segala bentuk permasalahan diberikan sesuai tingkat keimanan dan kemampuan seseorang, tidak lain agar kita lebih mendekatkan diri pada Allah swt. Berpikir dan merenungkan ada apa dibalik semua permasalahan yang menghinggapi diri kita.

    Di Pondok Pesantren misalnya, jangan harap deh mau santai, bermanja ria ataupun hidup enak seperti di rumah orangtua. Mau bermanja ria juga sama siapa? Pun jika mau hidup enak, Pesantren bukan tempatnya. Pesantren itu tempatnya salah satu pelatihan mental dan fisik secara mandiri. Tatkala seorang santri dirundung kesedihan mendalam, bahan makanan mulai habis, uang bulanan semakin menipis, belum lagi kesendirian jauh dari keluarga dan orangtua…. yang paling pertama menghibur, siapa? Ya, betul sekali, siapa lagi kalau bukan teman-teman seasrama kita sendiri yang semoga istiqomah saling tolong-menolong sampai kapanpun. Selebihnya para pengasuh atau pembina Asrama juga yang paling bertanggungjawab jika ada santri yang berada dalam situasi sulit. Sungguh indahnya kebersamaan dan kekeluargaan.

    Nah, sedikit banyaknya masalah yang kita hadapi, saya hanya ingin berbagi ide yang menurut saya sangatlah simple, familiar, dan mungkin kebanyakan dari kuping kita udah tebel banget mendengarnya. Mengapa oh mengapa? Ya, karena aplikasinya sangat jarang tak bermunculan dipermukaan.

    Menjalin dan mempertahankan “Komunikasi antar sesama penghuni Pondok Pesantren, baik itu yang masih bertahan dalam area Pesantren maupun yang sudah menyandang status alumni dari sebuah Pesantren. Komunikasi? Enteng banget, bukan? Tapi jangan salah, Sahabat. Komunikasi inilah yang bakal mengalirkan rejeki kita kapan dan dimanapun kita berada, tanpa diduga dan diterka sekalipun. Sekarang ini kita hidup di jaman serba canggih, jamannya gaul di sosmed alias sosial media. Semuanya serba instan dan cepat hanya dalam hitungan sekian detik. Lalu, mengapa bisa terjadi kesenjangan ataupun saling lempar tanggungjawab ketika akan dilakukan pertemuan atau sekadar reunian antar penghuni Pesantren? Semuanya tidak mau ambil pusing dan serba sibuk dengan urusan masing-masing terkadang dijadikan sebagai alasan paling aktual. Penggunaan sosial media sebagai sarana komunikasi paling jitu semakin memudahkan kita saling memberi kabar satu sama lain dari kejauhan. Saya sangat berharap penerapan sosial media dikalangan Pesantren tidak dibatasi selama peruntukannya jauh lebih baik ketimbang harus bersemedi didepan jajaran Kitab Gundul sepanjang hari. Salah satu mediasi menghilangkan istilah gaptek bagi kalangan Pesantren.

    Pentingnya menanamkan benih-benih rasa tanggungjawab terhadap diri sendiri dan jiwa kepemimpinan sejak dini adalah dua hal yang tidak boleh disia-siakan oleh kita yang peduli terhadap amanah. So, jangan heran jika kebanyakan diantara kita sudah lalai dari tanggungjawabnya sendiri. Gimana juga mau memimpin orang lain jika diri sendiri sangat sulit untuk dibenahi dan dipimpin. Betul tidak?

    Sebenarnya sih, secara khusus semua penghuni Pondok Pesantren sudah mengetahui beberapa poin diatas. Karena sudah diajarkan berulang kali dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Lalu mengapa masih saja kacau dan seolah tidak ada yang mau peduli? hemm jawabannya hanya satu dintara ribuan jawaban lain, yaitu Ketidaksadaran dalam mengemban amanah bersama-sama!!!

    Apakah harus kita meneriakkan ke setiap telinga bahwa kamu harus begini dan begitu… dan seterusnya??? Saya rasa kita bukan lagi anak kecil yang mau tidak mau harus disuapin terus menerus. Sampai kapan coba kita harus menunggu perubahan yang lebih baik, jika kita sendiri yang hanya tinggal duduk manis, mematung, dan diam seribu bahasa? Sampai kapan kita mau menunggu jika bukan kita sendiri yang bergerak cepat walau terkadang khawatir dan ragu masih seringkali menghantui pikiran kita. Bukankah keberhasilan dan kesuksesan itu didapatkan jika kita berani maju dan mencobanya? Bagaimana mungkin kemenangan akan diraih jika tak ada usaha dan do’a yang menyertai setiap langkah kita…? Dan, pikirkanlah hal itu!

    Seribu ide untuk Pondok Pesantren tidaklah berguna jika tak satupun diantara kita yang mampu memulainya dari diri sendiri, lalu mencontohkannya pada orang lain, kemudian merangkul orang lain untuk melakukan perubahan sedikit demi sedikit… maka lihatlah hasilnya! Hidup disiplin apalagi. Satu hal tindakan utama yang paling menentukan setiap jati diri seorang penghuni Pesantren. Segudang tata tertib lengkap dengan hukumannya yang sebenarnya adalah cambuk positif bagi siapa saja yang ingin hidupnya semakin berharga dilain waktu. Karena dari sikap disiplin inilah para santri dilatih untuk menghargai waktu walau sedetik agar tidak terbuang sia-sia dan percuma. Lihat saja ketika akan diadakan sebuah pertemuan formal, “jam karet” adalah istilah yang paling tepat disandangkan bagi pelanggar time schedule. Sunggguh memalukan, bukan? Keterlambatan sekian detik mengakibatkan banyaknya korban waktu yang barjatuhan satu per satu. Pada akhirnya semua yang sudah ditata rapi sejak awal, menggoreskan luka kekecewaan yang mendalam karena menimbulkan kekacauan dan seisi ruangan menjadi “panas”. Belum lagi mulut-mulut mulai mencibir hanya bisa berkomentar negatif yang tidak di thinking baik-baik. Saling menghargai segala kekurangan dan kelebihan dlam situasi panas seperti ini adalah paling tepat dihadirkan bagi semua orang. Memangnya manusia mana yang tidak luput dari khilaf dan salah? Yah, paling tidak ada sedikit usaha maksimal namun pada kenyataannya tetap saja masih kurang dimata yang lain. Harap dimaklumi saja tipe yang satu ini. Toh, sekali lagi, hidup ini tidak ada yang sempurna dan lengkap. Kecuali Allah yang Maha Sempurna menciptakan seisi langit dan bumi.

    Semoga sedikit dari harapan dan nasehat yang saya lontarkan ini mampu mengubah banyak dari pola pikir kita semua yang merindukan Pondok Pesantren jauh lebih baik dan menghasilkan santri dan alumni yang kompak, berprestasi, teladan, dan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya. Akhir kata, beberapa hal yang harus kita lakukan untuk Pesantren ini tidak mungkin tercapai tanpa usaha dari kita sendiri untuk bergerak lebih cepat dan tepat demi tujuan yang pasti. Semoga berkenan dan segera diaplikasikan. Salam Perubahan. Wassalam ^_^

  21. Afattah says:

    Awas makanan bahaya tersebar dimana-mana! Saya menyaksikan sendiri ketika seorang teman saya membali sepotong ayam bagian kepala dan leher tetapi tidak ada semilipun bekas goresan pisau. Dan peristiwa itu terjadi pondok kita, Pon.Pes. Al Hikmah 2.
    Tragis memang. Makanan berbahaya baik secara agama maupun kesehatan sudah mulai meracuni urat nadi rantai makanan Pon.Pes. Al Hikmah 2. Dan semua kalangan seolah menutup mata akan makanan yang notabenenya menjadi sesuatu yang sangat fital dalam kehidupan manusia. Dengan berdalih “Ah cuma santri, makan apa aja juga tetep sehat.” secara tidak langsung mereka telah memotong umur para santri. Mereka tidak melihat apa yang akan terjadi sepuluh duapuluh tahun kedepan.
    Oleh karena itu, menurut hemat saya adalah sangat penting jika diadakan Food and Drink Standardisation (FDS) untuk mengecek kelayakan makanan dan minuman yang beredar di Pon.Pes. Al Hikmah 2. Dengan adanya operasi ini, secara implisit bisa juga digunakan untuk merevitalisasi lembaga-lembaga pendidikan yang bergelut dalam bidang kesehatan dalam naungan Yayasan Pon. Pes. Al Hikmah 2.
    Dengan ini manusia yang sedang dibentuk di pondok tidak hanya berkualitas dalam kerohanian dan keilmuan saja, tetapi juga dalam jasmani. Proses transfer ilmu dan tarbiyah pun akan lebih mudah mengena sasaran karena faktor-faktor fisik terpenuhi dengan baik.

    makasih ..
    AFattah.

    @afattah19 on twitter

  22. Kopiah Putih says:

    Saya ada ide tentang seleksi ketat untuk peserta didik yang ingin masuk dan tinggal dipesantren.
    Ide ini dilakukan untuk menghilangkan cara pandang masyarakat selama ini bahwa pesantren adalah bengkel. Dimana dlam pesantren mereka menganggap bisa memperbaiki sikap peserta didik yang rusak bahkan yang parah sekalipun. Ide ini muncul ketika saya sering mendapat keluhan tentang prilaku santri yang setelah tinggal di pesantren berubah drastis menjadi lebih jelek.

    Meskipun ide ini akan menjadi dilema karena kalau bukan pesantren yang akan memperbaiki sikap generasi bangsa siapa lagi. Tapi ini dilakukan untuk kebaikan pesantren kedepannya.. :)

    Salam saya..

  23. ali says:

    itu gimana cara mbuat GA nya *maksudnya perihal apa??
    trus adakah contoh yang di maksud biar bisa buat refernsi buat GA nya
    “hatur nuhun teh “

  24. nuzulul says:

    Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

    Semoga ide sederhana dari pengalaman pribadi saya bisa diwujudkan.

    “Rp. 2.000,-/Hari untuk Donasi Santri, Mengapa Tidak?”

    Sukses untuk GA-nya. Maaf baru tahu infonya hari ini.
    Terima kasih. Jazaakillah khoiron.

    Wassalamu’alaikum.

  25. HM Zwan says:

    Bismillahirrahmaanirrahim…Assalamu’alaikum…salam kenal mbk :) ,saya baru tahu ada GA ini setelah membaca tulisan blogger…karena GA2 dan 3 sudah selesai,saya ikutan yang GA1 ya mbk :)

    IDE UNTUK PESANTREN
    Kenal dunia pesantren sejak TK, lanjut lulus MI dibawa (alm) abah ke pesantren putri di Ponorogo,disini saya 7 tahun, setahun ngabdi (wajib mengajar 1 tahun untuk alumni pilihan). Mungkin hal yang dulunya tidak terpikiran, baru sekarang kita mengenangnya, baru sekarang kita merasakannya, benar adanya bahwa pesantren adalah tempat yang unfogettable banget bagi kita. Dari sanalah kita belajar dan tumbuh jadi pribadi mandiri,cekatan,serba bisa dll. Padahal kita belajar dari kebiasaan dan kegiatan sehari-hari, bangun mulai pukul 04.00 dan tidur lagi pukul 22.00 kadang lebih dari itu. Belajar dari tobur hammam, matbah, sampai wudhupun antri, dan kita selalu menikmatinya. Belajar banyak hal dari muhadlarah, kasyyafah, mukholifah lughoh, KMD, bahkan berjuang untuk mendapatkan gelar menjadi pembina, dll. Dari sanalah kita belajar banyak hal, tentang semuanya…setelah lulus dan keluar dari pesantren, mendadak kita bisa mengajar,bisa jadi pembina, bisa menjadi guru ekstrakurikuler (mulai pramuka,drumband,dll)..ya,itu semua buah dari pembelajaran di pesantren..

    Kalau sudah bertahun-tahun menjadi alumni, jangan lupa almamater, jangan lupa pesantren kita…lalu, apa idenya untuk pesantren??
    1. Mengadakan reuni tahunan, atau jika tidak memungkinkan, bisa tiga tahun sekali atau lima tahun sekali.
    Masih ingat kan hadist/ayah tentang silaturrahmi??pasti dong,hafalan kita dulu waktu kelas 1,itupun diulang-ulang (dan keluar pas ujian akhir kelas 6 ^^). Untuk apa??tentunya untuk mempererat tali silaturrahmi,melihat keadaan pesantren, bagaimana keadaan ustadz/ustadzah, bagaimana dengan santrinya dll. Jika sempat dan niat, sempatkan untuk melihat langsung dan bertamu ke rumah ustadz/ustadzah serta pimpinan. Dan ini sudah saya lakukan dengan teman-teman tahun 2009,hasilnya mereka sangat senang karena sat itu baru pertama kali dikunjungi oleh alumni dengan menaiki 1 bus ma’had dan beberapa sepeda motor, subhanallah, sungguh kami senang melihat senyum guru kami saat itu (mewek >_<).
    Selain acara temu kangen, tentunya ada kegiatan sharing dengan para pimpinan dan ustadz/ustadzah. Untuk apa??tentunya untuk pengembangan pesantren agar lebih maju lagi, siapa tahu mungkin promosinya kurang menyebar/luas, siapa tahu ada metode pengajaran baru dan sepertinya bisa diterapkan di pesantren,dll.
    2. One Day for Sharing.
    Inspirasi itu datang dari mana saja dan siapa saja. Siapa tahu si A dulu yag suka melanggar bahasa,melanggar kebersihan,telat ke masjid,berdiri di depan masjid sambil baca al-qur'an, sekarang sudah jadi penulis terkenal. Saat khutbatul ar's (pekan perkenalan santriwati baru) si A bisa sharing di depan santriwati, cerita tentang masa-masa lalu di ma'had, kegiatan setelah lulus, dan perjalanan serta proses sampai mejadi penulis terkenal. Selain memberikan motivasi kepada seluruh santriwati, ini juga menjadi kegiatan rutin mengundang alumni-alumni dari angkatan pertama-akhir, selain ajang silaturrahmi. Lagi-lagi, siapa tahu inspirasi itu datang dari sosok-sosok alumni yang mau berbagi.

    Dua ide aksi untuk para alumni atau calon alumni, kalau untuk pesantren saya rasa bisa dibicarakan pada acara (no 1). SEbenarnya pingin cerita buanyak,tapi kelupaan kalau ini di kolom komentar hehe..seru nih dibukukan hehehe,makasih ya mbk utuk GA kerennya…senang mengenal mbk Mae (lihat komen2 diatas hehe). Sekian, baarokalloh…^^
    salam
    HM Zwan (panggil mbk bukan mas hehehe)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *